Jilbab Putih
Kau hadir pertama kali dalam hidup ku kala ku mengenakan seragam putih-hijau. Ya, putih hijau bukan putih merah layaknya anak-anak seumur ku. Sederhana, segitiga, dengan hiasan bordir di tepi. Aku menyukai-nya. Sangat, lebih dari apapun. Aku tidak perlu hiasan berlebih.
Sekian puluh tahun kemudian, aku sudah tidak berseragam lagi. Aku kembali menjumpai mu. Lama sekali, aku tidak melihat mu hadir. Aku kangen. Sungguh. Kesederhanaan mu kembali mempesona ku.
Kini kau datang dengan senyum ceria. Bercakap-cakap dengan mu layaknya berbicara dengan setumpuk buku. Kau suka membaca, juga menulis. Tulisan mu sungguh indah. Walau ketika kau berbicara di depan umum, kau merasa berantakan. Kau pintar, namun tentu kau malu bila dipuji.
Aku tak tahu mengapa, belakangan ini kau berubah. Cerita kan lah. Apakah kau takut kehilangan masa-masa kecil mu, seperti tes yang kau lakukan pada dirimu sendiri?
Kembalilah, jilbab putih.